Natah Gurat Zaman Hidupkan Situs Gunung Susuru Ciamis Lewat Pagelaran Seni dan Dialog Budaya
Tjiamis,- Pemanfaatan situs bersejarah sebagai ruang publik untuk aktivitas kebudayaan terus didorong di Kabupaten Ciamis. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui forum “Pasamoan Rasa: Bedah Karya dan Diskusi Publik Pikeun Natah Gurat di Situs Gunung Susuru” yang digelar di halaman Gedung Pramuka Ciamis, Sabtu (27/6/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi sekaligus refleksi atas pertunjukan seni bertajuk Natah Gurat Zaman yang sebelumnya berlangsung pada Rabu (8/6/2026) di Kompleks Situs Gunung Susuru, Desa Kertabumi, Kecamatan Cijeungjing. Pertunjukan tersebut menampilkan beragam ekspresi seni, mulai dari pembacaan naskah, teater, musik tradisional, tari, hingga seni rupa, dengan melibatkan sejumlah seniman asal Ciamis.
Baca juga: Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran, Teguhkan Komitmen Pelestarian Budaya Sunda di Kawali
Forum diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni seniman teater Noer JM, sastrawan Toni Lesmana, dan akademisi kebudayaan Dini Dian Anggraeni. Sebanyak 120 peserta turut mengikuti kegiatan ini, terdiri atas komunitas seni, komunitas sastra dan literasi, sanggar seni, mahasiswa, pelajar tingkat SMP dan SMA, pegiat pelestarian situs budaya, hingga masyarakat umum.
Ketua Panitia Pelaksana, Deni Nugraha Sunjaya, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut merupakan bagian dari program yang didukung Kementerian Kebudayaan bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Dana Indonesia Raya, pada kategori layanan produksi media dan pendayagunaan ruang publik.
Menurut Deni, Situs Gunung Susuru dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat sekaligus potensi besar sebagai ruang ekspresi kebudayaan. Melalui program Natah Gurat Zaman, situs tersebut tidak hanya difungsikan sebagai lokasi pertunjukan seni, tetapi juga menjadi media untuk mempertemukan berbagai gagasan kebudayaan.
“Kompleks Gunung Susuru merupakan ruang publik yang memiliki nilai sejarah. Melalui program ini, kami berupaya mengoptimalkan fungsinya sebagai ruang ekspresi budaya melalui pertunjukan bertema Natah Gurat Zaman,” ujarnya.
Ia menambahkan, penyelenggaraan bedah karya dan diskusi publik bertujuan menghimpun masukan dari berbagai kalangan terhadap proses kreatif yang telah dilaksanakan. Hasil diskusi diharapkan menjadi pijakan dalam mengembangkan pemanfaatan situs budaya secara lebih luas.
Selain sebagai tempat pertunjukan, situs budaya dinilai memiliki potensi sebagai ruang pembelajaran, laboratorium kreativitas, serta sarana edukasi sejarah yang mampu melibatkan masyarakat secara aktif.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, penyelenggara berharap akses masyarakat terhadap aktivitas kebudayaan semakin terbuka, sekaligus memperkuat kolaborasi antarpegiat budaya dalam memanfaatkan ruang publik secara inklusif dan berkelanjutan. (Red)