Gagasan Nanang Permana, Amengan Sepuh Ajak Lansia Ciamis Jadi Santri
CIAMIS;- Gagasan sederhana untuk mengajak para tokoh sepuh memperbaiki diri di masa senja melahirkan program Amengan Sepuh di Pondok Pesantren Darussalam Ciamis. Program pesantren kilat khusus lansia tersebut digagas Ketua DPRD Ciamis H. Nanang Permana bersama sejumlah tokoh sepuh dan Pengasuh Pesantren Darussalam KH. Fadlil Yani Ainusyamsi atau Ang Icep.
Sebanyak 20 lansia yang mayoritas merupakan mantan pejabat Pemerintah Kabupaten Ciamis dan Pemerintah Kota Banjar perdana mengikuti Pesantren AMPUH atau Amengan Sepuh. Kegiatan berlangsung selama sehari semalam, mulai Jumat (4/9/2026) hingga Sabtu (5/9/2026).
Gagasan tersebut bermula sekitar sebulan sebelumnya saat Nanang berdiskusi bersama sejumlah sesepuh dan Ang Icep di Joglo Pondok Pesantren Darussalam. Dari pertemuan itu muncul keinginan menghadirkan ruang pembelajaran khusus bagi para lansia untuk memperbaiki dan menyempurnakan praktik ibadah.
“Kalau kemarin kita salah karena tidak tahu, wajar. Tapi nanti setelah dikasih tahu masih salah, nah itu mengkhawatirkan. Kegiatan latihan ini untuk memperbaiki yang biasa dilakukan. Saya tidak ingin ibadah itu seadanya, bagaimana kata guru,” kata Nanang.
Menurutnya, Pesantren AMPUH tidak sekadar menjadi kegiatan berkumpul bagi para pensiunan dan tokoh sepuh. Program tersebut diharapkan menjadi sarana untuk terus belajar, terutama dalam memperbaiki tata cara berwudu dan salat.
“Paling tidak tujuan utamanya untuk memperbaiki diri. Kita bisa bersama-sama memperbaiki wudu dan salat yang biasa kita lakukan,” ujarnya.
Pesantren AMPUH dibuka seusai Kuliah Subuh, Jumat (4/9/2026). Selama mengikuti kegiatan, para peserta menjalani kehidupan layaknya santri dan mondok selama satu malam di Wisma IKADA atau Ikatan Alumni Darussalam.
Selain pembelajaran ibadah, Nanang juga berharap dalam Pesantren AMPUH diberikan materi nadhoman. Menurutnya, tradisi lantunan syair keagamaan yang dahulu kerap terdengar di masjid-masjid perlu kembali dikenalkan kepada peserta.
“Waktu kecil saya sering mendengar itu di masjid. Saya rindu antara Asar dan Magrib ada alunan nadhom tauhid, seperti wujud, qidam, baqa,” katanya.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-36 PSGC Ciamis, Nanang Permana Titip Pesan untuk Pemain
Gelombang pertama diikuti sejumlah tokoh yang pernah menduduki jabatan penting, di antaranya mantan Sekda Kota Banjar H. Sodikin, mantan Direktur PDAM Ciamis H. Cece, mantan Asisten Daerah Setda Ciamis H. Yasmin Sambas, mantan Kepala Dinas Pendidikan Ciamis H. Akasah, mantan Asisten Daerah H. Ika, serta mantan Kepala Bappeda Kota Banjar H. Tommy Subagja.
Anggota DPRD Ciamis H. Ganjar M. Yusuf dan Presiden Direktur PO Bus Gapuraning Rahayu H. Roni Karno juga turut menjadi peserta.
Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Ang Icep, mengatakan peserta pada gelombang pertama dibatasi sebanyak 20 orang karena menyesuaikan kapasitas kamar yang tersedia.
Ia menjelaskan materi yang diberikan kepada para peserta dikemas ringan dan sederhana. Fokus utama kegiatan adalah membantu para lansia menyempurnakan ibadah yang selama ini telah dijalankan.
“Sekadar memperbaiki yang biasa bapak-bapak lakukan. Seperti penyempurnaan tata cara wudu, salat. Lalu ada olahraga rileks santai dan olahraga pernapasan untuk orang tua,” ujar Ang Icep.
Sebelum mengikuti rangkaian pesantren, seluruh peserta terlebih dahulu menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tim medis Pos Kesehatan Pondok Pesantren Darussalam. Selanjutnya mereka mengikuti ramah tamah, menunaikan Salat Jumat, kemudian masuk ke kobong untuk menjalani kegiatan hari pertama.
Secara harfiah, Amengan Sepuh atau ulin kolot berarti permainan orang tua. Namun, program tersebut dimaknai lebih dalam sebagai rekreasi menuju kegiatan yang lebih bermanfaat, baik bagi fisik maupun rohani, sekaligus menjadi ikhtiar memperbaiki diri di masa senja.
Ketua Lembaga Lansia Indonesia (LLI), H. Akasah yang menjadi salah satu peserta mengaku bangga dapat mengikuti Pesantren AMPUH. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah positif untuk mendorong penuaan yang sehat, tidak hanya dari sisi fisik, tetapi juga rohani dan kesejahteraan batin.
Melalui gagasan Amengan Sepuh, Nanang Permana berharap para lansia tetap memiliki ruang untuk belajar. Bagi mereka yang telah menuntaskan masa pengabdian dalam berbagai jabatan, masa senja bukan akhir untuk menimba ilmu, melainkan kesempatan untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.