Tingkatkan Perlindungan Perempuan dan Anak, Pemkab Ciamis Segera Bentuk UPTD PPA
Tjiamis,- Pemerintah Kabupaten Ciamis terus berupaya memperkuat perlindungan bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A), pemerintah daerah sedang mempersiapkan pembentukan Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA). Unit ini akan fokus pada pelayanan kuratif dan rehabilitatif bagi korban.
Elis Lismayani, S.KM., Bdn., M.M., Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DP2KBP3A Ciamis, menuturkan, jika pembentukan UPTD PPA merupakan langkah strategis sebagai komitmen pemerintah dalam menyediakan layanan perlindungan yang lebih terintegrasi.
Keberadaan unit ini juga menjadi salah satu indikator dalam penilaian Kabupaten Layak Anak (KLA) serta Anugerah Parahita Ekapraya (APE). Di Jawa Barat, hanya dua daerah yang belum memiliki UPTD PPA, yaitu Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya.
“Kami mendukung setiap kebijakan yang berpihak pada perempuan dan anak. Saat ini, kami tengah menyusun rencana pembentukan UPTD PPA yang akan difokuskan pada layanan rehabilitatif dan kuratif,” kata Elis Jumat (20/2/2026).
Menurut Elis, kajian akademik mengenai pembentukan UPTD PPA sudah selesai disusun dan kini sedang menunggu rekomendasi dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Selain itu, pihaknya juga sedang menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) serta menyiapkan tenaga profesional, seperti psikolog klinis, yang sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan korban kekerasan.
“Kami juga berharap agar DPRD memberikan perhatian lebih terhadap masalah ini, termasuk dalam hal percepatan pembentukan UPTD PPA, baik dari segi infrastruktur maupun pendanaan operasional,” ujarnya.
Penanganan Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Ciamis
Lanjut Elis, DP2KBP3A Ciamis sendiri tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga menangani dimensi psikologis dan sosial korban. Setiap bulan, mereka menangani sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang meliputi kekerasan seksual, ekonomi, penelantaran, serta kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Kami berkolaborasi dengan dua jenis psikolog, yakni psikolog klinis dan psikolog forensik. Pendampingan dilakukan dengan intensif, bahkan untuk kasus yang berat, kami bisa mengadakan pertemuan hingga tiga kali,” jelas Elis.
Sebagai inovasi, tim pendamping juga membentuk grup komunikasi daring yang melibatkan psikolog, korban, dan keluarga. Melalui grup ini, diberikan pendampingan harian yang mencakup latihan pernapasan, afirmasi positif, serta teknik pengendalian emosi.
“Kami ingin menjadi sistem pendukung bagi korban dan keluarganya. Karena, pemulihan tidak hanya untuk korban, tetapi juga untuk lingkungan sekitar mereka,” tambah Elis.
Beberapa korban kekerasan telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Elis menceritakan bahwa ada anak-anak korban kekerasan yang berhasil bangkit dan meraih prestasi, seperti memenangkan lomba bela diri tingkat nasional dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. “Ketika mereka berani tampil dan berprestasi, itu adalah tanda bahwa kondisi mental mereka mulai pulih,” ujarnya.
Kendala dalam Penanganan
Meski demikian, Elis mengakui masih ada kendala, terutama terkait dengan anggaran dan sumber daya manusia. Sebagian besar dana dari APBD fokus pada kegiatan pencegahan, sementara program rehabilitasi masih bergantung pada Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
“Meskipun demikian, perhatian dari Pemkab semakin besar. Bupati bahkan bertanya langsung mengenai apa saja kebutuhan kami. Itu adalah bukti nyata kepedulian terhadap masalah ini,” kata Elis.
Berdasarkan data terbaru, 85 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Ciamis sepanjang tahun 2025 kemarin. Meskipun ada peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, Elis menilai bahwa peningkatan jumlah laporan menunjukkan bahwa masyarakat semakin sadar dan berani melapor untuk mencari bantuan.
“Sekarang, masyarakat lebih terbuka untuk melapor dan mencari bantuan. Itu menunjukkan bahwa edukasi dan kampanye yang kami lakukan mulai memberikan dampak,” pungkasnya. (Red)